Menjelang Ramadan 2026, banyak brand fashion berada dalam posisi lesu karena daya beli konsumen masih wait and see dan perilaku belanja semakin selektif. Konsumen tidak lagi impulsif, sehingga strategi digital marketing Ramadan 2026 untuk brand fashion tidak bisa lagi mengandalkan pola lama.
Kesalahan strategi berisiko pada anggaran iklan terus terbakar, stok menumpuk di gudang, dan calon pembeli hanya berhenti di Add to Cart tanpa menyelesaikan checkout.
Kondisi ini bukan hanya menghambat penjualan, tetapi juga menekan arus kas dan efektivitas kampanye Ramadan.
Karena itu, kami menghadirkan panduan strategi komprehensif yang dirancang khusus untuk realita pasar 2026. Ini adalah strategi Go-To-Market yang relevan untuk membantu Anda memenangkan kepercayaan dan keputusan beli konsumen.
Table of Contents
Kilas Balik dan Realita: Kenapa Ramadan 2026 Berbeda?
Memasuki Ramadan 2026, brand fashion tidak lagi bisa mengandalkan data dan pendekatan pasca pandemi 2022. Lanskap konsumen telah berubah signifikan tahun 2026 ditandai sebagai era financial awareness, di mana konsumen jauh lebih sadar terhadap pengeluaran, nilai produk, dan urgensi pembelian.
Mitos lama bahwa “asal diskon pasti laku” kini mulai runtuh. Konsumen tidak lagi otomatis bereaksi terhadap potongan harga besar, melainkan mengevaluasi apakah sebuah produk benar-benar relevan dengan kebutuhan dan kondisi finansial mereka.
Perilaku belanja pun mengalami pergeseran. Jika beberapa tahun lalu didominasi oleh revenge shopping dorongan belanja impulsif sebagai pelampiasan kini konsumen memasuki fase mindful shopping.
Setiap pembelian dipertimbangkan secara matang, menjadikan kepercayaan, value, dan relevansi sebagai faktor utama dalam keputusan beli.

Bedah Data Perilaku Konsumen: Lebih Selektif dan “Sadar Dompet”
Menjelang Ramadan 2026, konsumen masih ingin tampil gaya, namun dengan pertimbangan finansial yang lebih ketat dan rasional.
1. Fenomena “Selective Buying”: Kualitas di Atas Kuantitas
Konsumen tidak berhenti berbelanja mereka hanya menjadi lebih selektif. Setiap produk dievaluasi berdasarkan kualitas, fungsi, daya tahan, serta kesesuaian dengan harga yang ditawarkan. Pembelian impulsif mulai tergeser oleh pertanyaan sederhana namun krusial: apakah produk ini benar-benar worth it?
Dalam konteks ini, brand fashion dituntut untuk tidak hanya menawarkan variasi produk, tetapi juga mampu mengkomunikasikan nilai, diferensiasi, dan alasan kuat mengapa produk tersebut layak dipilih dibandingkan alternatif lain.
2. Pergeseran Prioritas: Fashion vs Kebutuhan Pokok
Berbagai insight pasar pada Ramadan 2025 menunjukkan adanya pergeseran prioritas belanja, di mana proporsi konsumen yang mengalokasikan pengeluaran untuk fashion menurun dari 78% menjadi 55%.
Penurunan ini mencerminkan meningkatnya fokus konsumen terhadap kebutuhan pokok serta kehati-hatian dalam mengelola pengeluaran.
Meski berasal dari 2025, tren ini menjadi indikator kuat yang berlanjut hingga Ramadan 2026. Karena perilaku konsumen jarang berubah drastis, brand fashion perlu melihatnya sebagai sinyal untuk memposisikan produk sebagai kebutuhan esensial dan investasi penampilan.
3. Sentimen Ekonomi dan Dampaknya pada Keputusan Checkout
Sentimen ekonomi yang tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) menunjukkan bahwa konsumen masih cenderung berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Akibatnya, meskipun minat dan ketertarikan terhadap produk sudah terbentuk, keputusan untuk checkout sering kali dipikirkan ulang dua hingga tiga kali sebelum benar-benar melakukan transfer.
Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak brand fashion mengalami gap antara Add to Cart dan transaksi. Tantangan utama bukan lagi menarik perhatian, melainkan membangun rasa aman, kepercayaan, dan urgensi yang cukup kuat di momen penting sebelum pembayaran.
Baca juga: Analisis Studi Kasus Lotte Mart: Strategi Rebranding
Produk Apa yang Bakal Laku di 2026?
Memasuki 2026, strategi produk brand fashion perlu beradaptasi dengan selera pasar yang mengutamakan kepraktisan tanpa mengorbankan keanggunan.
1. Tren “Modest & Minimalis” dengan Warna Earth Tone
Di 2026, konsumen semakin tertarik pada desain modest dan minimalis dengan palet warna earth tone seperti sage, terracotta, dan cokelat susu.
Gaya yang timeless dan fleksibel tetap pantas untuk Lebaran sekaligus relevan dipakai kembali untuk aktivitas kerja menjadi nilai jual utama bagi brand fashion.
2. Kekuatan Bundling sebagai Solusi One-Set
Konsumen yang semakin praktis cenderung memilih solusi instan tanpa perlu repot mix and match.
Strategi bundling seperti paket gamis, hijab, dan inner tidak hanya memudahkan keputusan beli, tetapi juga efektif meningkatkan Average Order Value (AOV) secara signifikan.
3. Material “Breathable” untuk Kenyamanan Ibadah dan Silaturahmi
Kenyamanan menjadi faktor utama, terutama di tengah cuaca yang cenderung panas saat Ramadan.
Material breathable seperti katun dan linen semakin diminati karena nyaman digunakan dari salat Tarawih hingga aktivitas silaturahmi seharian, tanpa mengorbankan tampilan yang tetap rapi dan elegan.
Content Strategy: Sentuhan Emosional dan Storytelling
Brand fashion yang mampu membangun koneksi emosional dan menyampaikan cerita yang relevan akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dan pada akhirnya, keputusan beli dari konsumen.
1. Mengganti “Diskon Besar” dengan Narasi “Empati & Value”
Di 2026, pendekatan hard selling berbasis diskon semakin kehilangan daya tarik. Konten dengan narasi empati bahkan dengan sentuhan emosional seperti sad boy angle justru lebih relevan untuk membangun kedekatan.
Misalnya cerita ringan seputar momen bukber dan tekanan sosial yang sering dirasakan konsumen. Pendekatan ini membantu brand menyampaikan value produk secara halus, tanpa terkesan memaksa untuk membeli.
2. Dominasi Video Pendek (15-30 Detik) di TikTok dan Reels
Format video pendek tetap menjadi kanal utama untuk menjangkau dan mempertahankan perhatian audiens. Strategi konten edutainment menggabungkan edukasi ringan dengan hiburan perlu didukung visual hook yang kuat dalam tiga detik pertama agar pesan brand tersampaikan secara efektif.
3. Live Shopping: Kunci Interaksi Real-Time dan Trust
Live shopping semakin berperan penting dalam membangun kepercayaan konsumen secara langsung. Host yang komunikatif dan informatif mampu menjelaskan detail bahan, potongan, serta menjawab keraguan calon pembeli, sehingga membantu mengurangi ketidakpastian dan risiko retur setelah pembelian.
Mengoptimalkan Prime Time Sahur dan Ngabuburit
Strategi posting konten dan penayangan iklan perlu disesuaikan dengan prime time sahur dan ngabuburit, saat audiens paling aktif, responsif, dan terbuka terhadap pesan brand.
1. The Sahur Window (03.30 – 05.30): Waktu Terbaik untuk Checkout
Pada waktu sahur, kondisi psikologis konsumen cenderung lebih tenang dan fokus, sambil menunggu waktu Subuh.
Situasi ini membuat konsumen lebih reseptif terhadap penawaran dan memiliki kecenderungan impuls belanja yang lebih tinggi, sehingga menjadi momen ideal untuk mendorong checkout.
2. The Ngabuburit Slot (16.00 – 18.30): Waktu Hiburan dan Riset Produk
Ngabuburit merupakan fase di mana konsumen mencari hiburan ringan untuk mengalihkan perhatian sambil menunggu waktu berbuka.
Pada periode ini, konten yang bersifat menghibur dan informatif lebih efektif, karena konsumen umumnya masih berada pada tahap eksplorasi dan riset produk, belum pada keputusan pembelian.
3. Momen Cairnya THR: Fase Puncak “Revenge Shopping”
Pencairan THR menjadi pemicu utama lonjakan belanja menjelang Lebaran. Rentang waktu H-10 hingga H-5 sebelum Lebaran sering kali menjadi fase puncak konversi, di mana konsumen kembali lebih agresif dalam berbelanja dan siap mengambil keputusan pembelian.
Baca juga: Jasa Vendor Cetak Kartu E-Money Custom Edisi Imlek
Checklist Teknis: Memenangkan Algoritma Google dan Marketplace
Di balik strategi dan konten yang kuat, keberhasilan kampanye Ramadan juga sangat ditentukan oleh aspek teknis yang sering kali diremehkan.
1. Optimasi SEO dengan Keyword Long-Tail dan Voice Search
Persaingan kata kunci generik semakin ketat, sehingga brand perlu mengarahkan strategi SEO pada keyword long-tail dan pola voice search yang lebih spesifik.
Frasa seperti “rekomendasi baju koko slim fit 2026” atau “dress lebaran busui friendly” cenderung memiliki intent lebih tinggi dan peluang konversi yang lebih baik.
2. Website Speed: Jangan Biarkan Calon Pembeli Kabur
Kecepatan loading website, terutama di perangkat mobile, menjadi faktor penting dalam keputusan beli. Konsumen cenderung meninggalkan halaman yang lambat dimuat, sehingga optimasi performa website bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
3. Strategi Iklan Berbayar (Ads) Tanpa Boncos
Agar anggaran iklan lebih efisien, fokuskan strategi pada retargeting, khususnya untuk audiens yang sudah menunjukkan minat seperti Add to Cart atau kunjungan berulang. Pendekatan ini membantu meningkatkan peluang konversi tanpa harus terus menambah biaya iklan untuk audiens baru.
Baca juga: Social Media Agency: Brand Naik, Sales Kencang
Strategi Pasca-Lebaran (After-Sales)
Melalui pendekatan after-sales yang tepat, brand dapat menjaga hubungan jangka panjang dan mengubah pembeli musiman menjadi pelanggan loyal bukan sekadar datang lalu pergi.
1. Mengelola “Sisa THR” dengan Promo Clearance
Setelah Lebaran, sebagian konsumen masih memiliki sisa THR dan minat belanja yang tertunda. Promo clearance dapat dimanfaatkan untuk menghabiskan stok sisa sekaligus menjangkau konsumen yang terlambat berbelanja, tanpa merusak positioning harga utama.
2. Membangun Loyalitas Komunitas untuk Jangka Panjang
Pasca-Lebaran adalah momentum yang tepat untuk membangun hubungan berkelanjutan dengan pelanggan. Melalui pendekatan komunitas dan program loyalitas, pembeli musiman dapat diarahkan menjadi pelanggan tetap yang melakukan repeat order dan memperkuat pertumbuhan jangka panjang brand.
Yuk Jalankan Strategi Digital Marketing Anda Bersama Deta
Brand fashion membutuhkan perencanaan yang matang, berbasis data, dan relevan dengan perilaku konsumen yang semakin selektif agar momentum. Ramadan benar-benar menghasilkan pertumbuhan, bukan cuman euforia sesaat.
Kami memahami bahwa mengelola seluruh rangkaian strategi ini mulai dari konten TikTok dan Reels, live shopping, iklan berbayar, hingga optimasi SEO website dapat terasa overwhelming jika dijalankan sendiri. Di sinilah Deta Integrated Marketing Company hadir sebagai partner strategis Anda.
Deta membantu brand menyusun pendekatan yang terarah sejak perencanaan hingga eksekusi. Didukung layanan Online Marketing Solution yang terintegrasi, kami memastikan setiap kanal digital bekerja selaras untuk mendorong hasil bisnis yang nyata.
Jangan biarkan bisnis Anda galau sendirian. Konsultasikan kebutuhan strategi Ramadan Anda bersama Deta gratis, dan mari susun strategi kemenangan yang tepat untuk brand Anda di Ramadan 2026.


